Share
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Ubud: Desa Budaya Ditengah Gempuran Metropolitano

Oke, judulnya serasa lebay gitu lah yak.

Tapi hal tersebut yang bagi saya mampu menggambarkan situasi Bali sekarang ini.

Sejak pertama kali saya menginjakan kaki di Bali (read: tahun 2012), saya selalu mendengar istilah “Bali berat ke Selatan”.

Bagi yang belum tahu, istilah tersebut menggambarkan kondisi pariwisata Bali yang terlalu fokus ke arah Selatan, lebih tepatnya cuman ke kabupaten Badung saja.

Kab Badung? Itu loh Canggu, Kuta, Seminyak, Legian, Nusa Dua, dll.

Hingga saat ini, istilah “Bali berat ke Selatan” itu masih tergumam.

Setidaknya sepertinya belum ada perkembangan yang mengarah ke pembangunan DTW daerah lain. Bandara Buleleng saja masih wacana terus. (Correct me ya).

Bali Selatan itu dulunya mirip-mirip Ubud, hijau dimana-mana.

Ambil contoh Canggu, yang saat ini sudah menjadi Desa Metropolitan.

Sepertinya udah susah menemukan Lahan Hijau di Canggu.

Lihat saja gambar dibawah ini yang hanya terpaut 5 tahun (Correct me lagi ya)

Canggu Shortcut

Ubud

Udah 9 tahun tinggal di Bali, udah sering bolak-balik lewat Gianyar dan Ubud.

Tapi baru pada tanggal 16 Mei 2021 kemaren saya stay 2 malam disana.

Yang paling berkesan itu adalah pas bangun pagi hari.

Kali ini saya dibangunin tanpa alarm hp, tetapi oleh alarm alami.

Yap, saya kebetulan dapat villa di Ubud dengan pemandangan sawah.

Jadi di pagi hari saya dibangunin dengan suara binatang-binatang sawah.

Walaupun suaranya bisa ditirukan di aplikasi HP untuk alarm, tapi dibangunin oleh suara binatang alam ini benar-benar menyejukkan.

Apalagi pas bangun, keluar kamar, disuguhkan dengan pemandangan hijau-hijau.

Dan hal ini lah yang menjadi identitas Ubud (daya jual wisata Ubud).

Walaupun beberapa hari/minggu belakangan muncul berita-berita yang gak jelas seperti kelas orgasme, kelas yoga saat covid, dll.

Malam hari di ubud terasa seperti di Desa, bukan seperti lagi di “Bali”.

Walaupun ada indomart dan alfamart kiri kanan, tapi karena jalan-jalannya masih diselingi oleh pohon-pohon serta rumah warga yang dengaan ciri khas Bali, tidak menghilangkan identitas “Kedesaan” Ubud.

Kedesaan inilah yang menjadi daya tarik tersendiri Ubud, yang terkenal semenjak film Eats Pray Love, dan masih bisa bertahan hingga sekarang.

Bisa dibilang, kalau mau wisata Bali yang tenang ke Ubud. Kalau mau hype ke Canggu, kalau mau mainstream ke Seminyak dan Kuta. Kalau suka surfing ke Uluwatu!

Ngomong soal Uluwatu, vibenya rada sama dengan Ubud bedanya kalau Ubud kehijauan, kalau Uluwatu kekuningan.

Karena saya gak pandai nulis, sepertinya tulisan ini gak ada topik utama nya ya.

Tapi biarkan foto-foto dibawah ini yang berbicara mengenai keindahannya Ubud.

I do not own all the material used in these review. All images from the movie here are used for educational and review purposes only.